Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ustaz Farid Ismail: Halal Bihalal adalah Sarana Mensucikan Hati dan Menjemput Rida Allah

Sabtu, 14 Februari 2026 | Februari 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-14T13:04:35Z

TIBAWA - Acara perpisahan purna tugas Kepala SDN 12 Tibawa, Ibu Asniaty Masionu, S.Pd., menjadi lebih bermakna dengan hadirnya tausiyah agama yang disampaikan oleh Ustaz Farid Ismail, S.Ag. Dalam ceramahnya, Ustaz Farid menekankan bahwa esensi dari kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sarana untuk saling menghalalkan dan membersihkan diri dari penyakit hati.


Membuka ceramahnya, Ustaz Farid mengulas sejarah Halal Bihalal yang merupakan tradisi khas Indonesia, dicetuskan pertama kali oleh KH Abdul Wahab Hasbullah pada tahun 1946 untuk menyatukan para tokoh bangsa.


 "Istilah Halal Bihalal ini mungkin tidak ada di Arab, tapi maknanya luar biasa di Indonesia sebagai sarana mensucikan hati. Kita harus bersegera mencari ampunan Allah melalui dua jalur: hubungan vertikal (Hablu Minallah) melalui ibadah, dan hubungan horizontal (Hablu Minannas) dengan sesama manusia," jelas Ustaz Farid di hadapan keluarga besar SDN 12 Tibawa.


Ustaz Farid juga memberikan peringatan keras mengenai fenomena sosial saat ini, terutama terkait adab berbicara dan penggunaan media sosial. Beliau mengingatkan agar setiap kebaikan atau pemberian cenderamata tidak dipamerkan demi pujian semata.


 "Jangan sedikit-sedikit diekspos di Facebook atau WA hanya demi pengikut (followers). Itu namanya riya. Berikanlah dengan niat sedekah yang tulus. Ingat, siapa yang menghujat orang lain, maka amal kebaikannya akan dipindahkan Allah kepada orang yang dihujat tersebut," tegasnya.


Terkait hubungan antara orang tua dan guru, Ustaz Farid berpesan agar wali murid senantiasa menghargai jasa pendidik. Beliau mengkritik tren orang tua yang mudah melapor ke pihak berwajib jika anaknya menerima tindakan disiplin di sekolah. Menurutnya, pendidikan karakter membutuhkan ketegasan yang didasari kasih sayang.


Pesan menyentuh juga disampaikan mengenai adab dalam keluarga, di mana beliau mengingatkan para istri untuk tetap menghormati suami dan menghargai ibu sebagai "malaikat tak bersayap".


 "Rida Allah tergantung pada rida suami, dan air mata ibu bisa menjadi lautan api jika kita durhaka. Mari kita buang rasa dendam kepada pemimpin, orang tua, dan guru agar tidak berdampak buruk pada karakter anak-anak kita di masa depan."


Menutup tausiyahnya, Ustaz Farid memberikan apresiasi khusus bagi Ibu Asniaty Masionu yang telah menuntaskan tugasnya dengan baik selama enam tahun di SDN 12 Tibawa. Beliau menutup dengan sebuah pantun penuh makna:


"Ubur-ubur ikan lele, jangan lupa kami di sini. Karena tugasmu bukan akhir segalanya, namun bawalah kenangan yang terbaik dari sini."


Beliau menegaskan bahwa purna tugas ini adalah akhir dari pengabdian formal, namun awal dari perjalanan baru yang harus diiringi dengan doa dan hati yang bersih.


×
Berita Terbaru Update