Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Warga Tagih Sikap Polres Bitung: Keberanian Haji Tito Leraikan Tawuran Dinilai Layak Dapat Apresiasi

Kamis, 12 Maret 2026 | Maret 12, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-11T19:52:47Z

Bitung - Keberanian tokoh masyarakat Haji Tito yang turun langsung melerai tawuran antar kelompok pemuda di Kota Bitung, Sulawesi Utara, menuai perhatian luas dari masyarakat. Warga menilai tindakan tersebut bukan hanya berisiko tinggi, tetapi juga menjadi langkah nyata meredam konflik yang berpotensi menimbulkan korban jiwa.


Namun hingga kini, masyarakat justru mempertanyakan sikap Polres Bitung yang dinilai belum memberikan apresiasi terhadap tindakan berani tersebut.


Peristiwa tawuran antara kelompok pemuda dari wilayah Empang dan Sarikelapa terjadi pada Minggu (8/3/2026). Bentrokan berlangsung menegangkan karena kedua kelompok dilaporkan saling menyerang menggunakan panah wayer, senjata tajam, serta lemparan batu.


Di tengah situasi yang sangat berbahaya itu, Haji Tito yang dikenal sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kota Bitung justru memilih turun langsung ke lokasi bentrokan. Ia berdiri di antara dua kelompok yang sedang saling serang untuk menghentikan tawuran.


Langkah tersebut dinilai warga sebagai tindakan yang sangat berisiko, karena siapa pun yang berada di tengah bentrokan dapat sewaktu-waktu menjadi sasaran serangan.

Christian, warga Pardo yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek dan kebetulan berada di lokasi kejadian, mengaku menyaksikan langsung keberanian Haji Tito saat melerai kedua kelompok pemuda tersebut.


“Situasinya sangat berbahaya. Ada panah wayer, senjata tajam, dan batu beterbangan. Tapi beliau tetap berdiri di tengah untuk melerai. Menurut kami, tindakan seperti ini seharusnya mendapat apresiasi dari Polres Bitung,” ujar pria yang akrab disapa Tian.


Menurut Tian, keberanian Haji Tito menunjukkan kepedulian nyata terhadap keamanan lingkungan dan keselamatan masyarakat yang berada di sekitar lokasi bentrokan.


“Beliau mengambil risiko besar demi menghentikan tawuran. Kalau tidak ada yang berani melerai saat itu, kemungkinan bentrokan bisa semakin besar dan memakan korban,” katanya.


Karena itu, warga mempertanyakan mengapa hingga saat ini belum terlihat adanya bentuk penghargaan atau apresiasi dari pihak kepolisian terhadap tokoh masyarakat yang telah membantu meredakan konflik di tengah masyarakat.


“Tokoh masyarakat seperti beliau justru membantu menciptakan situasi aman. Kami berharap Polres Bitung tidak menutup mata. Setidaknya ada apresiasi atau penghargaan moral atas keberanian beliau,” tegas Tian.


Sejumlah warga juga menilai tindakan Haji Tito menjadi bukti bahwa peran tokoh masyarakat masih sangat penting dalam menjaga stabilitas keamanan, terutama saat konflik sosial terjadi di tengah masyarakat.


“Ini bukan soal popularitas, tapi soal keberanian dan kepedulian. Kalau tokoh masyarakat yang membantu meredakan konflik saja tidak dihargai, lalu pesan apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat?” ungkap Tomi


Tomi pun berharap Polres Bitung dapat menunjukkan sikap yang lebih terbuka dengan memberikan apresiasi kepada Haji Tito, sekaligus memperkuat sinergi antara aparat keamanan dan tokoh masyarakat dalam menjaga kondusivitas Kota Bitung.


“Keamanan adalah tanggung jawab bersama. Ketika ada tokoh masyarakat yang berani mengambil risiko demi menghentikan kekerasan, sudah seharusnya negara hadir memberi penghargaan,” pungkasnya

×
Berita Terbaru Update