Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perjalanan Dakwah Miqdad Polia, Pemuda Polos dari Kaki Gunung Nenek Susi

Rabu, 11 Maret 2026 | Maret 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-11T12:58:28Z


Di kaki gunung “Nenek Susi”, Dusun Polia, Desa Botumoputi, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, tinggal seorang pemuda sederhana bernama Miqdad. Perjalanannya dalam usaha dakwah bermula dari ajakan menuju masjid.


Pemuda yang dikenal dengan nama asli Herman Abas itu tinggal tidak jauh dari perbukitan kapur yang menjadi penanda kampungnya. Jauh dari lingkungan tersebut berdiri Masjid Al-Istiqlal Dusun Polia, tempat para pemuda sering berkumpul dalam kegiatan keagamaan, sekarang menjadi pusat Khalaqo Tibawa 01 mencakup seluruh masjid di desa Datahu, Botumoputi dan sebagian desa Iloponu.


Awal perkenalannya dengan usaha dakwah dan tabligh terjadi ketika ia diajak oleh Ismail Hulopi bersama beberapa pemuda masjid lainnya. Mereka saat itu bersiap melakukan khuruj fii sabilillah ke dusun tetangga.


Tujuan khuruj tersebut adalah Masjid Al-Munawarah Dusun Toluludu yang masih berada di desa yang sama. Bagi para pemuda yang sudah mengenal usaha dakwah, perjalanan tiga hari itu menjadi bagian penting menghidupkan amalan masjid.


Miqdad awalnya menolak dengan berbagai alasan. Namun ajakan Ismail Hulopi tidak pernah surut. Ketika semua alasan habis, pakaian Miqdad bahkan diatur oleh para pemuda masjid sebelum akhirnya ia ikut berangkat.


Pemuda itu memiliki keterbatasan dalam berbicara sehingga orang yang baru pertama berbincang dengannya kerap kesulitan memahami maksudnya. Meski demikian, semangat para jamaah tetap mengajaknya ikut dalam perjalanan dakwah tersebut.


Rombongan jamaah saat itu dipimpin oleh seorang amir bernama Herman Ishak. Sosok polisi yang lama berkecimpung dalam dakwah itu dikenal sabar membimbing para pemuda yang baru mengenal usaha tabligh.


Hari pertama khuruj menjadi masa adaptasi bagi Miqdad. Ia lebih banyak memperhatikan aktivitas jamaah, mulai dari musyawarah harian, taklim masjid, hingga adab-adab sederhana yang dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.


Memasuki hari kedua, Miqdad mulai belajar mengucapkan kalimat tauhid “Laa Ilaha Illallah.” walaupun mengalami kesulitan dalam pengucapan selalu diulang-ulang. Ia juga mulai ikut dalam ikhtilat dengan jamaah masjid setempat, berusaha membaur meskipun masih terbatas dalam berkomunikasi.


Hari ketiga menjadi titik perubahan. Miqdad mulai bersemangat dalam membuat amalan walaupun awalnya masih mengikuti apa yang dilakukan oleh jamaah lainnya di dalam masjid tersebut.


Selama tiga hari itikaf di masjid, ia mempelajari berbagai adab sunnah Baginda Nabi Muhammad SAW. Mulai dari adab makan, minum, tidur, istinja, hingga adab berada di dalam masjid.


Semua adab tersebut dimuzakarahkan oleh sang amir setiap hari. Bagi Miqdad, pelajaran sederhana itu menjadi pengalaman baru yang perlahan membentuk kebiasaan hidupnya.


Setelah khuruj tiga hari selesai, para jamaah kembali ke kampung halaman. Namun sesuai tertib dakwah, mereka belum langsung pulang ke rumah masing-masing sebelum mengikuti bayan wafsi.


Bayan wafsi dilaksanakan di Masjid Al-Istiqlal Dusun Polia sebagai masjid maqami mereka. Nasihat tersebut berisi pengingat agar amalan masjid tetap hidup sebagaimana saat khuruj.


Dalam bayan itu dijelaskan pentingnya menghidupkan musyawarah harian, taklim masjid, jaulah, silaturahmi, serta menghidupkan amalan agama di rumah masing-masing.


Sebuah peristiwa kecil terjadi menjelang salat Zuhur di masjid tersebut. Paman Miqdad, Iton Abas, saat itu sedang berbaring dengan kaki menjulur ke arah kiblat.


Karena sudah belajar adab di masjid, Miqdad tanpa diminta langsung mengangkat kedua kaki pamannya hingga tubuh Pak Iton berputar hampir 180 derajat. Peristiwa itu membuat orang-orang di masjid terkejut sambil menahan tawa.


Pak Iton yang waktu itu belum ikut usaha dakwah tidak marah atas perlakuan tersebut. Ia hanya tersenyum memahami kondisi keponakannya, lalu ikut tertawa melihat tingkah Miqdad yang polos itu.


Perjalanan dakwah Miqdad kemudian berlanjut lebih jauh. Ia menambah pengorbanannya dengan ikut khuruj selama empat bulan di jalan Allah bersama jamaah lainnya.


Setelah kembali ke kampung halaman, semangat amalnya terlihat semakin kuat. Ketika tidak ada yang mengimami salat, Miqdad dengan berani berdiri di depan untuk memimpin salat berjamaah.


Walaupun pelafalan Al-Fatihah dan ayat pendeknya belum terlalu fasih, jamaah tetap memaklumi keterbatasannya. Keikhlasan Miqdad justru menjadi pengingat tentang pentingnya keberanian beramal.


Di Masjid Al-Istiqlal, setelah salat Magrib biasanya dibacakan satu hadis dari kitab Fadhail Amal. Dalam beberapa kesempatan, Miqdad tiba-tiba berdiri mengambil kitab tersebut.


Ia kemudian menyampaikan sesuatu seolah-olah sedang membaca, padahal sebenarnya ia tidak dapat membaca maupun menulis. Melihat hal itu, para jamaah hanya bisa tersenyum, saling melirik satu sama lain sambil mengangkat alis.


Keteladanan Miqdad juga membawa pengaruh dalam keluarganya. Adiknya, Abdullah Roman Abas, ikut terlibat dalam usaha dakwah dan bahkan wafat saat menjalani khuruj empat bulan di Sulawesi Tengah.


Kakaknya, almarhum Hendra, serta ayahnya juga ikut dalam kegiatan dakwah dan tabligh. Lingkaran kecil di Dusun Polia itu perlahan dipenuhi semangat pengorbanan di jalan Allah.


Dalam salah satu khuruj empat bulan, jamaah dipimpin oleh Sukiman Potale. Pada suatu malam, Miqdad diminta menyampaikan bayan setelah salat Magrib.


Ia duduk di mimbar sambil memegang mikrofon. Seorang ustaz yang hadir malam itu memperhatikan ceramahnya dengan seksama meskipun penyampaiannya sederhana.


Melihat kesungguhan Miqdad yang berdakwah dengan segala keterbatasannya, sang ustaz justru tersentuh. Dari peristiwa itu, ia tertarik mengikuti program dakwah dan tabligh bersama jamaah.


Nama Miqdad sendiri sebenarnya bukan nama aslinya. Pemuda itu lahir dengan nama Herman Abas dan akrab dipanggil Eman atau Ema oleh keluarga serta tetangganya.


Nama Miqdad diberikan oleh almarhum Komandan Herman Ishak ketika mereka khuruj tiga hari di Masjid Ulobuo yang saat itu masih termasuk wilayah Desa Buhu.


Sejak saat itu, nama Miqdad Polia lebih dikenal di kalangan jamaah. Kisah hidupnya menjadi cerita sederhana tentang kesungguhan beramal di tengah keterbatasan.


Bagi warga Dusun Polia, perjalanan Miqdad sering mengingatkan mereka pada kisah para sahabat Nabi yang diceritakan dalam kitab Fadhail Amal. Kisah yang mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu lahir dari kesempurnaan.

×
Berita Terbaru Update