Isimu, 24 Desember 2025 - Langit Isimu masih berwarna kelabu ketika Kasim Ahmad sudah bersiap-siap. Pukul lima pagi, pria yang akrab disapa Acim itu sudah memastikan keranjang plastik birunya terisi penuh. Seratus lima puluh buah lemper tersusun rapi, menunggu untuk dibawa melintasi jalan menuju Sentral Isimu.
Ini bukan rutinitas baru baginya. Sejak kecil, Acim sudah mengenal aroma ketan dan serundeng yang menjadi ciri khas lemper. Kini, puluhan tahun kemudian, ia masih setia dengan usaha yang sama. Tidak ada rencana berhenti, tidak ada keinginan beralih profesi.
"Ini sudah jadi bagian hidup saya," kata Acim sambil mengecek tali keranjang yang akan tersampir di bahunya. Di samping lemper, beberapa botol air mineral ikut melengkapi dagangan. Sederhana, tapi cukup untuk memulai hari.
Bentor yang dikendarai Acim mulai melaju dari Dusun Polia, Desa Botumoputi. Perjalanan ke Sentral Isimu memakan waktu sekitar 15 menit. Setibanya di lokasi, ia memarkir kendaraan di tempat biasa, lalu berjalan menuju titik-titik strategis tempat calon pembeli biasa berkumpul.
Pukul setengah enam pagi, Acim sudah siap. Keranjang biru tersampir di bahu kanannya, langkahnya mantap menyusuri area sentral Isimu. Penumpang bus, sopir angkutan, pedagang lain, bahkan warga yang sekadar lewat semua adalah calon pembeli potensial.
"Lemper... lemper panas!" serunya sesekali, meski sebenarnya banyak pelanggan yang sudah tahu dan langsung menghampiri tanpa perlu ditawarkan.
Tidak butuh waktu lama bagi Acim untuk menjual habis dagangannya. Sebelum jam delapan pagi, keranjang biru itu biasanya sudah kosong. "Alhamdulillah, pembeli sudah banyak yang langganan. Ada yang beli untuk sarapan di perjalanan, ada juga yang beli untuk oleh-oleh," ujarnya.
Lemper Acim memang bukan sekadar jajanan pagi. Bagi sebagian penumpang yang transit di Sentral Isimu, lemper itu adalah sarapan praktis sebelum melanjutkan perjalanan. Bagi yang lain, itu adalah kenangan rasa yang sudah dikenal bertahun-tahun.
"Saya sudah jualan di sini lama sekali. Banyak pembeli yang dari dulu masih setia beli lemper saya," kata bapak dua anak ini dengan senyum.
Selain melayani pembeli langsung, Acim juga menerima pesanan untuk berbagai keperluan acara keluarga, syukuran kecil, atau sekadar stok untuk dijual lagi. "Kalau ada yang pesan sebelumnya, saya siapkan sesuai jumlah. Pernah ada yang pesan 200 biji untuk hajatan," kenangnya.
Fleksibilitas itu menjadi salah satu kunci Acim bertahan di tengah persaingan jajanan modern yang kian beragam. Ia tidak hanya mengandalkan penjualan langsung, tapi juga menjaga kepercayaan pelanggan dengan selalu siap melayani pesanan.
Ketika keranjang biru sudah kosong, hari Acim belum selesai. Ia kembali ke bentor yang terparkir, lalu mulai mencari penumpang di sekitar wilayah Tibawa. Profesi ganda ini bukan pilihan, tapi kebutuhan.
"Kalau lemper sudah habis, saya lanjut cari penumpang. Lumayan untuk tambah penghasilan keluarga," katanya santai.
Bagi Acim, dua pekerjaan ini saling melengkapi. Pagi diisi dengan berjualan lemper, siang hingga sore dihabiskan untuk mengangkut penumpang. Tidak ada istirahat panjang, tidak ada waktu mengeluh. Yang ada hanya semangat untuk terus bekerja demi menghidupi keluarga.
"Alhamdulillah, dari lemper dan bentor ini, anak-anak bisa sekolah, kebutuhan sehari-hari tercukupi. Saya bersyukur," ujarnya dengan nada rendah tapi penuh rasa syukur.
Di tengah perubahan zaman, ketika banyak orang berbondong-bondong mencari pekerjaan formal atau usaha modern, Acim memilih jalan yang berbeda. Ia tetap pada lemper, tetap pada bentor, tetap pada kesederhanaan.
Baginya, usaha kecil ini bukan hanya soal uang. Ini soal kesetiaan pada sesuatu yang telah membesarkannya, soal menjaga tradisi yang mulai langka, soal membuktikan bahwa kerja keras sederhana pun bisa menghidupi keluarga dengan layak.
"Saya tidak malu jualan lemper. Ini pekerjaan halal, saya usaha sendiri. Yang penting istiqomah," katanya tegas.
Setiap pagi, ketika matahari mulai menyingsing di ufuk timur Tibawa, keranjang biru itu kembali terisi. Dan Acim, dengan senyum khasnya, kembali melangkah menuju Sentral Isimu.
Bukan untuk menjadi terkenal, bukan untuk dikenang. Hanya untuk menjalani hari, seperti biasa dengan lemper di pundak dan harapan di hati.