Sore itu, kediaman Yusra Marhaba yang akrab disapa Uca di Dusun Toluludu, Desa Botumoputi, Kecamatan Tibawa, menjadi tempat pulang bagi kenangan. Alumni SMUN 1 Tibawa Angkatan 2004 kembali berkumpul, membawa rindu yang lama disimpan.
Mereka datang dengan cerita hidup yang berbeda. Ada yang kini sibuk mengurus keluarga, ada yang lelah oleh pekerjaan, dan ada pula yang hadir dengan hati yang sedang diuji. Namun ketika saling menatap, semua perbedaan itu luluh tanpa perlu dijelaskan.
Rumah sederhana itu mendadak penuh suara tawa dan jeda hening. Obrolan tentang masa putih abu-abu mengalir bersamaan dengan kisah kehidupan hari ini. Kenangan lama muncul perlahan, menyentuh sisi paling dalam dari persahabatan yang pernah terbangun.
Uca menyambut semuanya bukan hanya sebagai tuan rumah, tetapi sebagai teman lama yang memahami arti kebersamaan. Bersama Ferlin Mii dan kawan-kawan, ia menyiapkan hidangan dengan gotong royong, seolah ingin memastikan setiap yang hadir merasa diterima sepenuh hati.
Satu per satu alumni mengisi sore itu: Maryam Badjuka, Nur’ain Kasim, Sri Wahyuni Darsono, Indra Kasim, Irsan Abubakar, Lisnawati Puliki, Asda Azis, Zenab Husain, Ridwan Adam, Melani Tomelo, Halidun Adam, Mem Lizza, Jemis Bilondatu, dan Hasan Ismail. Wajah-wajah yang telah ditempa waktu, namun masih menyimpan cahaya yang sama.
Di tengah kebersamaan, Uca menyampaikan rasa syukurnya. “Terima kasih karena sudah datang. Terima kasih juga kepada teman-teman yang ikut membantu menyiapkan makanan. Tanpa kalian, kebersamaan ini tidak akan sehangat ini,” ucapnya dengan suara bergetar.
Kehadiran Mem Lizza menjadi salah satu momen paling menyentuh. Ia datang setelah hari-hari panjang menjaga orang tua di rumah sakit. “Saya tidak ingin melewatkan pertemuan ini. Bertemu kalian memberi saya kekuatan,” katanya lirih.
Reuni berlanjut hingga ba’da Magrib. Suasana berubah menjadi lebih tenang, lebih reflektif. Percakapan tak lagi keras, tawa menjadi lebih pelan, dan beberapa mata mulai basah, menahan emosi yang tak terucap.
Halidun Adam mengungkapkan perasaannya dengan jujur. “Di sini saya merasa waktu berhenti. Kita kembali menjadi kita yang dulu, meski hanya sebentar,” ujarnya, membuat suasana semakin hening.
Zenab Husain menatap satu per satu wajah di sekelilingnya. “Kita tidak tahu kapan bisa berkumpul lagi. Karena itu, momen seperti ini terasa sangat mahal,” katanya, suaranya nyaris tenggelam.
Menjelang Isya, pertemuan harus diakhiri. Tidak ada perpisahan yang berlebihan, hanya jabat tangan erat dan tatapan yang menahan rindu. Sebelum Isya tiba, mereka kembali ke rumah masing-masing, membawa pulang lebih dari sekadar kenangan.
Di rumah Uca, reuni itu berakhir. Namun bagi alumni SMUN 1 Tibawa Angkatan 2004, kebersamaan sore itu akan terus hidup di ingatan, di hati, dan di doa yang diam-diam terucap ketika malam benar-benar jatuh.
